Uswatun Hasanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
“Husna dan Bahasa Cinta-Nya”

“Husna dan Bahasa Cinta-Nya”

Hari itu, dimana saat-saat melelahkan bagi Husna. Dia yang baru menjalani semester awal dalam dunia perkuliahan. Terkadang, dia langsung merebahkan badan setelah makan siang dan shalat dzuhur untuk menghilangkan letihnya dalam beberapa hari menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang silih berganti berdatangan. Beberapa makalah untuk presentasi yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat.

“Inikah rasanya kuliah,” Husna bergumam dalam hati.

Tiba-tiba Husna teringat akan makanan yang ditawarkan oleh Kak Mita teman sekostnya saat pulang kuliah. Kak Mita memang suka memasak. Dia selalu membagikan masakannya pada adik-adik di kost. Husna belum sempat menyantapnya. Husna pun menuju dapur sebelum kucing beraksi melahapnya. Seketika mengambil piringnya tiba-tiba tangan Husna tesenggol meja hingga menjatuhkan piring dan pecah.

Husna menjadi terdiam sesaat, tak biasanya memecahkan piring seperti itu. Husna mempunyai firasat buruk dan terpikirkan kedua orang tuanya.Kak Aulia terkejut mendengar suara piring yang jatuh.

“Ada apa husna?” tanya Kak Aulia.

“Ah, tak ada apa-apa kak, tak sengaja tersenggol meja,” ujar Husna.

“Baiklah. Kau tidak terluka kan? Hati-hati membersihkan pecahannya ya”

“Iya kak, Husna tak apa-apa. Baiklah kak.”

Perlahan Husna membersihkan serpihan piring yang pecah sambil berdoa dalam hati, “ya Robbi, semoga ini bukanlah pertanda buruk untuk ku dan keluargaku. Aamiin.”

Husna sedang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi yang jauh dari orang tuanya. Untuk bisa bersama orang tuanya Husna harus menunggu liburan semester tiba, karena jarak tempuh yang cukup jauh dan biaya yang tak sedikit dalam ukuran kantong mahasiswa untuk pulang pergi ke Kalimatan Tengah yang ditempuh selama 12 jam perjalanan. Sekarang Husna hanya menyimpan rindu dalam bentangan jarak antara Kal-Teng dan Kal-Sel. Air mata pun kerap menghampiri jika rindu tak tertahankan. Husna yang baru membiasakan diri untuk mandiri selama menjadi mahasiswa. Sejak TK sampai SMA, Husna mengenyam pendidikan di tanah kelahirannya, Puruk Cahu, Kalimantan Tengah. Pernah sesekali Husna mengikuti kegiatan ditingkan provinsi dan nasional, namun hanya dalam waktu satu atau dua minggu. Selebihnya Husna menghabiskan waktu dilingkungan keluarga meskipun kesibukan organisasi saat beranjak remaja membuatnya sering meninggalkan rumah untuk hal-hal tertentu. Namun demikian, Husna adalah gadis yang sangat dekat dengan ibunya. Hingga yang paling Husna tangisi adalah perpisahannya dengan ibunya.

Setelah membersihkan serpihan kaca, Husna kembali ke kamarnya. Telponnya berdering. Tertulis di layar ponselnya, “Bundaku”.

“ Assalamualaikum,” sapa Husna pada ibunya.

“ Waalaikumussalam. Bagaimana kabarmu nak?”

“Alhamdulillah baik bu. Ibu bagaimana?”

“Ibu alhamdulillah sehat. Kuliah mu bagaimana nak?”

“Kuliah alhamdulillah lancar bu, tapi sekarang sedang banyak-banyaknya tugas, Husna perlu menyesuaikan dengan deadline dan kadang-kadang tidur tidak teratur,” tutur Husna pada ibunya.

“Tetap jaga kesehatan ya nak. Kuliah memang seperti itu, ibu juga dulu begitu. Jangan lupa berdoa supaya diberi kemudahan oleh-Nya,” jawab ibu.

“Iya bu, insya Allah.”

Ya, ibunya memang pernah menjadi mahasiswa di usia 53 tahun. Saat itu Husna masih kelas X SMA. Ibunya melanjutkan pendidikan karena tuntutan sertifikasi guru, namun tak diwajibkan jika telah berusia 50 tahun ke atas. Beliau sempat mengalami kebingungan dan beranya pada Husna dan kakaknya untuk melanjutkan pendidikan. Atas saran Husna dan kakaknya, akhirnya ibunyamelanjutkan pendidikan S1. Sejak saat itu, Husna sering ditinggal Ibu untuk kuliah dan sering menginap dirumah sepupu jika ibunya mendapatkan jadwal kuliah ke Palangka Raya. Ibunya menempuh pendidikan S1 PAI di IAIN Palangka Raya program dual mode system selama dua tahun. Ibunya sering menceritakan pengalaman kuliahnya bersama teman-teman, suka duka dalam menghadapi dosen pembimbing dan perjuangan menyelesaikan tugas saat kondisi fisik telah menurun tak seperti saat muda. Akan tetapi, semangat yang menyala, keyakinan hati dan doa tanpa henti yang membuat Ibunta bertahan.

Ibu melanjutkan pembiacaraannya.

“Nak, sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan pada Husna,” dengan nada yang tak biasanya.

“Iya ibu, bicaralah, “ jawab Husna

“Begini nak, tadi ayahmu datang kerumah, lalu dia menceritakan pada ibu bahwa dia menikah lagi, ibu sangat kecewa nak, ibu tidak terima, dia menikah tanpa seijin ibu, ibu sangat marah tadi padanya, bagaimana nak, ibu ingin bercerai saja, bolehkah ibu mengurusnya, ibu ingin minta pendapatmu,” tutur ibu bersama isak tangis yang tertahan.

Husna terdiam beberapa waktu.

“ Sungguh aku tidak menyangka, seseorang yang selalu ku panggil ayah melukai wanita yang telah mengabdikan hidupnya dalam suka duka. Dunia terasa hancur saat mendengar tuturan ibu, bagaimana aku bisa menerima kenyataan sepahit ini, bagaima aku bisa merelakan penghianatan atas ibuku. Kerap kali ibu disakiti dengan perkataan tak menyenangkan dan perlakuan kasar dari ayah. Kadang aku hanya bisa menangis melihatnya dan sekarang ibuku memintaku untuk memberikan pendapat,” gumam Husna dalam hati yang teramat berduka.

Ya, bagian dari masa lalu yang tiba-tiba datang menghantuinya. Ketika Ibunya memiliki maaf, maaf dan maaf yang sealu terbuka untuk ayahnya, namun sang ayah tak kunjung menjadi lebih baik dalam waktu yang lama. Selalu ada hal-hal yang membuatnya naik darah dan tak bisa berkomunikasi dengan baik. Andai luka itu terlihat pada Ibunya tentulah begitu banyak darah mengalir. Namun, sang Ibu berusaha tetap menjalani hari tanpa memikirkan luka-luka yang menghampiri.

Husna pun akhirnya menjawab.

“Baiklah bu, apabila itu yang terbaik untuk ibu, silakan berpisah dengan ayah. Semoga ini keputusan yang terbaik untuk kita, “ jawab Husna lirih.

“Iya nak. Semoga. Maafkan ibu ya nak. Ibu tidak bisa bertahan lagi. Kau tahu kan bagaimana ayahmu selama ini. Maafkan ibu membuat awal kuliahmu seperti ini. Jika ayahmu menghubungimu bicarakanlah bahwa kuliahmu harus jadi prioritas utamanya, bukan istri keduanya,” ujar ibunya.

“ Iya bu, akan Husna lakukan, “ jawab Husna.”

“ Sudah dulu ya nak, nanti Ibu telpon lagi. Assalamualaikum.”

“ Waalaikumussalam.”

Usai percakapan via telpon. Husna menangis sejadi-jadinya. Husna berusaha tegar namun rasa sakit yang teramat ini begitu menyiksa batinnya. Husna tak kunjung tidur hingga sore seperti hari-hari sebelumnya. Husna hanya merebahkan diri ditemani linangan air mata. Panggilan ashar pun tiba. Husna bergegas dan meluahkan segenap rasa sakit hatinya dihadapan sang Pencipta.

Handphonenya kembali berdering. Ternyata ayahnya menghubunginya.

“Assalamualaikum,” sapa ayah.

“Waalaikumussalam. Ayah, kenapa ayah melakukan itu pada ibu ? Apa ayah ingin membuat Husna malu? Ayah benar-benar tidak memikirkan perasaan ibu dan Husna,” tutur husna spontan.

“Dengarkan dulu penjelasan ayah, jangan langsung marah.”

“Apa yang mau ayah jelaskan?” dengan nada kesal.

“Sebenarnya ayah tak ingin bercerai. Itu hanya nikah siri. Perempuan itu memaksa ayah untuk menikahinya. Kami kenalnya melalui percakapan via handphone,” jawab ayah.

“Lalu kenapa ayah mau menikahinya? Apa kurangnya ibu?,” tanya Husna geram.

“Ayah kasihan padanya. Ibumu tak menerima kalau ayah menikah lagi dan meminta bercerai. Padahal maksud ayah, tak usah berpisah seperti itu agar ayah tetap memberikan nafkah seperti biasanya, “ jawab ayah.

“Sudahlah ayah. Ibu sudah cukup memaklumi ayah selama ini. Jadi jika ibu ingin berpisah, kabulkan saja. Anak ayah ini wanita, jadi tahu persis bagaimana perasaan ibu,” jawab Husna ketus.

“ Ya, kalo memang ibumu bersikeras untuk berpisah. Silakan saja.”

“Memang tidak punya perasaaan,” Husna bergumam dalam hati.

“Husna ini kuliah yah. Bagaimana? Apa ayah mampu membiayai Husna sampai selesai? Atau baiknya Husna pulang saja berhenti kuliah dan bekerja disana? Husna tidak ingin sia-sia hanya karena ayah menikah lagi,” jawab Husna.

“Tenang saja. Ayah tetap bertanggung jawab dengan kuliahmu. Jangan berhenti kuliah dan jangan sampai masalah ini mengganggu kuliahmu, “ jawab Ayah.

“ Iya, sudah dulu ya yah. Husna ingin shalat magrib. Assalamualaikum,” Husna mengakhiri percakapannya karena tak cukup kuat menahan perasaannya.

“ Iya, nak. Waalaikumussalam.”

Awal kuliah yang sungguh melumpuhkan rasa bagi Husna. Kenyataan terberat yang harus dihadapinya. Setiap Jumat malam Kak Nisa datang untuk berkunjung dan halaqoh. Disitulah Husna mencurahkan segala perasaannya. Kak Nisa selalu menguatkan Husna dalam beberapa hari dengan keputusan perpisahan orang tuanya.

“Allah itu sayang dengan Husna makanya Allah kasih ujian seperti ini. Husnudzon ya dek. Bawa segala keluh dalam tahajjud. Sering baca Al-Qur’an. Pertemuan dan perpisahan itu rahasia Allah dan kita harus siap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Bukankah kita ini hamba yang telah berjanji untuk menerima segala hal yang akan terjadi sebelum kita terlahir ke dunia? Tetap berdoa untuk kebaikan ibu dan ayah Husna ya. Seburuk dan sejahat apapun mereka adalah orang tua dan Husna wajib berbakti pada mereka, “ tutur kak Nisa sambil mendekap dan mengelus kepalaku.

“Terima kasih ya Robb, kau kirimkan hamba orang terbaik saat-saat seperti ini, “ucap Husna dalam hati.

Waktu demi waktu berlalu. Perpisahan itu mengajarkan Husna tentang keikhlasan atas takdir-Nya. Berulang kali Husma mencerna segala peristiwa yang terjadi. Perpisahan itu tak selamanya menyakitkan. Apalah artinya bersama jika dua hati tak bahagia secara utuh. Kadang, Husna merasa iri pada mereka yang dianugerahi orang tua yang menua bersama hingga ajal memisahkan. Ada rasa pilu ketika kembali ke kampung halaman mengunjungi orang tua ditempat berbeda. Ah, sudahlah. Husna tak ingin larut dalam kesedihan. Inilah skenario Ilahi yang telah Husna akui sebelum terlahir. Dia hanya perlu waktu untuk megambil hikmah yang terserak dan meyakinkan hati bahwa itu yang terbaik dari-Nya dan bagian dari bahasa cinta-Nya yang harus diterjemahkan dengan husnudzon tanpa henti.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Tersayat aku membacanya, "perlu waktu untuk megambil hikmah yang terserak dan meyakinkan hati bahwa itu yang terbaik dari-Nya" kalimat bijak dan penguatbhati. Sukses selalu dan barakallah

07 Dec
Balas

Terima kasih bunda.,, kolaborasi dari hayalan dan pengalaman hidup..d tulisan berikutnya kasih saran lagi yaa..hehe.. Aamiin yaa Robb..barakallah juga untuk bunda..

07 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali